Pertemuan 14 Psikologi Umum
Nurul Sahhidayana (2110321005)
Humanistik
Humanistik adalah aliran dalam psikologi yang muncul tahun 1950an sebagai reaksi terhadap behaviorisme dan psikoanalisis. Aliran ini secara eksplisit memberikan perhatian pada dimensi manusia dari psikologi dan konteks manusia dalam pengembangan teori psikologis. Psikologi humanistik atau disebut juga dengan nama psikologi kemanusiaan adalah suatu pendekatan yang multifaset terhadap pengalaman dan tingkah laku manusia, yang memusatkan perhatian pada keunikan dan aktualisasi diri manusia. Pada awal pertengahan abad ke 20, pendekatan psikoanalisis dan behaviorism di psikologi Behaviorism dan Psikoanalisis pada tahun tersebut terlihat sebagai sesuatu yang tidak lengkap atau menyimpang. Yang dibutuhkan adalah pandangan baru tentang psikologi, yang tidak menekankan pikiran atau tubuh, tetapi jiwa manusia.
Tokoh-tokoh pada masa Humanistik
1.Abraham Maslow
Abraham Maslow berpendapat bahwa terdapat hierarki kebutuhan (The Hierarchy of Needs) naik dari kebutuhan biologis dasar ke motivasi psikologis yang lebih kompleks yang menjadi penting hanya setelah kebutuhan dasar dipenuhi. Kebutuhan pada satu tingkat harus setidaknya dipenuhi sebagian sebelum mereka naik ke tingkat berikutnya dan menjadi motivator tindakan yang penting.
Ketika kebutuhan fisiologis seseorang (seperti rasa lapar, haus, dan sebagainya) diprediksi terpuaskan, seseorang dapat menangani kebutuhan keselamatan (perlindungan dari unsur-unsur, rasa sakit, dan bahaya yang tidak terduga); ketika kebutuhan keselamatan terpenuhi secara wajar, seseorang bebas untuk berurusan dengan kebutuhan yang dimiliki dan dicintai (kebutuhan untuk mencintai dan dicintai, untuk berbagi kehidupan seseorang dengan orang lain yang relevan); ketika kebutuhan yang dimiliki dan cinta cukup terpenuhi, seseorang dilepaskan untuk merenungkan kebutuhan penghargaan (untuk memberikan kontribusi yang dapat dikenali bagi kesejahteraan sesama manusia); jika kebutuhan penghargaan terpenuhi dengan memuaskan, seseorang berada dalam posisi untuk aktualisasi diri. Dengan aktualisasi diri, menurut Maslow berarti mencapai potensi manusia sepenuhnya atau pemenuhan diri.
2.CARLS ROGERS
Carl Rogers percaya bahwa individu memiliki kecenderungan bawaan untuk bergerak menuju pertumbuhan, kedewasaan, dan perubahan positif. Dia menyebut ini sebagai kecenderungan aktualisasi.
Keyakinan Rogers pada keutamaan aktualisasi membentuk dasar dari nondirective or client-centered therapy. Metode psikoterapi ini mengasumsikan bahwa setiap individu memiliki motivasi dan kemampuan untuk berubah dan bahwa individu tersebut memiliki kualifikasi terbaik untuk memutuskan arah perubahan yang harus diambil. Peran terapis adalah bertindak sebagai papan suara sementara klien mengeksplorasi dan menganalisis masalahnya. Pendekatan ini berbeda dari terapi psikoanalitik, di mana terapis menganalisis riwayat pasien untuk menentukan masalah dan merencanakan tindakan perbaikan.
Konsep sentral dalam teori kepribadian Rogers adalah diri, atau konsep-diri (Rogers menggunakan istilah itu secara bergantian). Diri (atau diri sejati) terdiri dari semua ide, persepsi, dan nilai-nilai yang menjadi ciri "saya" itu termasuk kesadaran tentang "siapa saya"dan "apa yang bisa saya lakukan" Diri yang dipersepsikan ini, mempengaruhi persepsi seseorang tentang dunia dan perilakunya. Misalnya, seorang wanita yang menganggap dirinya kuat dan kompeten memandang dan bertindak terhadap dunia dengan cara yang sangat berbeda dari seorang wanita yang menganggap dirinya lemah dan tidak efektif. Konsep diri tidak selalu mencerminkan kenyataan: Seseorang mungkin sangat sukses dan dihormati tetapi masih memandang dirinya sendiri sebagai sebuah kegagalan. Menurut Rogers, individu mengevaluasi setiap pengalaman dengan konsep-dirinya. Orang ingin berperilaku dengan cara yang konsisten dengan citra diri mereka, pengalaman dan perasaan yang tidak konsisten mengancam dan mungkin ditolak masuk ke dalam kesadaran.
3.ARTHUR COMBS
Perasaan, persepsi, keyakinan dan maksud merupakan perilaku-perilaku batiniah yang menyebabkan seseorang berbeda dengan yang lain. Menurut Combs, perilaku yang keliru atau tidak baik terjadi karena tidak adanya kesediaan seseorang melakukan apa yang seharusnya dilakukan sebagai akibat dari adanya sesuatu yang lain, yang lebih menarik atau memuaskan. Misalkan guru mengeluh murid-muridnya tidak berminat belajar, sebenarnya hal itu karena murid-murid itu tidak berminat melakukan apa yang dikehendaki oleh guru. Kalau saja guru tersebut lalu mengadakan aktivitasaktivitas yang lain, barangkali murid-murid akan berubah sikap dan reaksinya. (Rumini, dkk. 1993).
Semoga bisa bermanfaat
Jangan lupa senyum dan bahagia 😇💜
Komentar
Posting Komentar